Feed on
Tulisan
Komentar

Arsip untuk ‘Hambatan Sukses / Psikis’ Kategori

Banyak manajer terlampau gampang mengkritik, tetapi sangat kikir memuji, sehingga membuat karyawannya merasa bahwa pekerjaannya hanya diperhatikan bila mereka membuat kesalahan. Kecenderungan untuk mengkritik ini semakin parah bila manajer manajer menunda memberi umpan balik dalam jangka waktu lama.
“Sebagian besar kesulitan dalam kinerja seseorang tidak terjadi dengan mendadak; kesulitan kesulitan itu berkembang perlahan lahan bersama [...]

Read Full Post »

Kritik ?

Menurut sebuah studi terhadap 108 manajer dan karyawan kantoran, kritikan yang salah arah akan diiringi dengan kecurigaan, pertengkaran pribadi serta perselisihan mengenai kepemimpinan dan menjadi dasar alasan terjadinya konflik di tempat kerja (Robert Baron).
Sebuah percobaan yang dilakukan di Rensselaer Polytechnic Institute memperlihatkan betapa merusaknya kritikan pedas terhadap hubungan kerja. Dalam sebuah simulasi, para sukarelawan diberi [...]

Read Full Post »

Tak diragukan lagi, Cecil amat pintar; ia adalah pakar beberapa bahasa asing dengan latar belakang perguruan tinggi, seorang penerjemah yang tangguh.
Tetapi ada beberapa sisi penting yang sama sekali tidak dikuasainya. Cecil tampaknya tidak memiliki keterampilan sosial yang paling sederhanapun. Ia pasti akan gugup bila harus melakukan percakapan ringan sambil minum minum kopi dan sikap janggal [...]

Read Full Post »

Apa yang membedakan “penjual” sejati dengan penjual pecundang ?
Penjual sejati “yakin” bahwa dirinya mampu menjual sedang penjual pecundang terus bertanya apakah dirinya seorang penjual.
Penjual sejati menjadikan target penjualan hanya sebagai alat untuk lebih “mengenal” kapasitas dirinya, sedang penjual pecundang menjadikan target sebagai penjara ketakutan bagi dirinya.
Penjual sejati menjadikan target sebagai tantangan yang diinginkan sedang penjual [...]

Read Full Post »

Menunda Pekerjaan

Ada banyak alasan yang dapat dibuat untuk mendapatkan pembenaran mengapa suatu pekerjaan ditunda.
Alasan yang lazim digunakan antara lain “nunggu mood”, “sedang dalam proses pengerjaan”, “tidak tau harus memulainya dari mana” ataupun “deadline yang belum mendesak”.
Dalam matrik Skala Prioritas, tugas tugas penting yang seharusnya menjadi prioritas untuk di kerjakan sekarang, di “geser” pada kesempatan berikutnya dan [...]

Read Full Post »

Jatuh

Jatuh berbeda dengan G.A.G.A.L !
jika seorang bayi ingin bisa berdiri, lebih dahulu harus bisa merangkak
jika seorang balita ingin bisa berjalan, lebih dahulu harus bisa berdiri
jika seorang anak ingin bisa berlari, lebih dahulu harus bisa berjalan
melalui jatuh seorang bayi belajar untuk “berdiri”
melalui jatuh seorang balita belajar untuk “berjalan”
melalui jatuh seorang anak kecil belajar untuk “berlari”
untuk naik [...]

Read Full Post »

Apa yang dimaksud dengan “Hambatan Pribadi” ?
Hambatan pribadi adalah suatu hambatan psikologis terhadap objek ataupun situasi tertentu dan biasanya bersifat sangat pribadi. Segala macam bentuk fobia ataupun trauma termasuk dalam Hambatan Pribadi.
Dulu, biasanya hambatan pribadi ini sangat dirahasiakan oleh yang bersangkutan dan hanya orang terdekat tertentu yang mengetahuinya. Seiring dengan era keterbukaan hal tersebut sudah tidak lagi menjadi [...]

Read Full Post »

Dalam menjalani hidup, kita selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sesuai dengan keinginan kita ataupun tidak.
Sebagai subjek (pelaku) kita dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu sebagai pelaku hal hal yang baik dan pelaku hal hal yang buruk. Demikian halnya sebagai objek (korban) kita dihadapkan pada 2 pilihan, yaitu sebagai korban hal hal yang baik ataupun korban hal [...]

Read Full Post »

Jika mental seseorang dikelompokkan dalam sebuah matrik, maka terdapat empat kelompok : 

peristiwa baik dan menyenangkan
peristiwa buruk tapi menyenangkan
peristiwa baik tetapi tidak menyenangkan
dan peristiwa buruk tetapi tidak menyenangkan

Pada kelompok pertama “peristiwa baik dan menyenangkan” misal men-syukuri nikmat kesehatan, menikmati rezeki, bersyukur memiliki anak yang lucu dan cerdas, maka respon sikap yang sesuai harus “perasaan”.
Akan tetapi pada kelompok [...]

Read Full Post »

Sering muncul dibenak kecil kita, masak dari jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 222 juta, hanya sedikit atlit kita yang dapat memenangkan olimpiade olah raga.
Jika dibandingkan dengan pencapaian jumlah medali negara lain :

Apakah biaya pembinaan atlit kita lebih kecil ?
Apakah kesempatan pertandingan kita lebih sedikit ?
Apakah sistem rekrutmen atlit kita lebih buruk ?
Apakah pelatih kita kurang ahli ?

Jika jawabannya “Tidak, bahkan lebih baik dari negara negara lain [...]

Read Full Post »

Tulisan sebelumnya