Konsultasi
September 16, 2006 oleh Isywara Mahendratto
Jika paradigma lama mengatakan bahwa watak / karakter karyawan “sulit diubah”, maka kini paradigma tersebut sudah tidak lagi berlaku !.
Biasanya, seorang karyawan bersedia berubah jika mengetahui alasan untuk berubah dan tau cara untuk berubah.
Kesadaran bahwa Karyawan memiliki kepentingan dalam peningkatan kompetensi dan Perusahaan memiliki kepentingan dalam peningkatan Sistem menimbulkan sinergi yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Pengasuh


Pak Isywara Yth.
Saya Rina, HRD Manager di perusahaan Moulding Injection.
Tingkat reject barang setengah jadi dibagian produksi kami lumayan tinggi.
Menurut hasil investigasi dan pembahasan meeting produksi, terutama untuk shift malam. Mungkin karena kontrol malam agak longgar ? Tapi shift siang kadang juga lumayan tinggi.
Akibatnya pekerjaan repairing jadi nambah dan terpaksa nambah tenaga kontrak.
Apakah program Servo juga bisa buat menurunkan reject ?
Atas penjelasannya, terima kasih.
Ibu Rina Yth.
Hampir sebahagian besar mesin produksi di industri padat modal menerapkan otomatisasi, robotisasi terutama untuk produk produk masal.
Antisipasi rencana produksi yang buruk, ketidak telitian operator mengendalikan “parameter setting”, tidak dilaksanakannya jadwal pemeliharaan mesin dsb. akan berpengaruh terhadap bertambahnya “jumlah” reject dari yang seharusnya.
Itu semua berhubungan dengan “komitmen” dan “kebiasaan” kerja karyawan. Pengendalian melalui sistem insentif ataupun hukuman akan kalah efektif jika “kesadaran” bekerja profesional, datang dari dalam diri karyawan ybs.
Ditambah sistem perusahaan (termasuk kebijakan, prosedur, instruksi kerja) yang terus menerus ditingkatkan, akan semakin meningkatkan produktifitas karyawan.
Program SERVO dapat memberikan “alasan” yang kuat, mengapa seseorang perlu bekerja secara profesional serta dapat langsung diterapkan ybs. didalam dunia kerja ataupun dalam kehidupan pribadinya.
Ini sekaligus menjawab pertanyaan mengapa kinerja ataupun performa perusahaan biasa biasa saja, sekalipun sudah menerapkan berbagai tools manajemen canggih seperti ISO 9000, ISO 14000, Safety & Health, Balance Score Card, Good Corporate Governance dsb.
Zero reject ? Siapa takut !
Selama pengalaman saya bersekolah saya jarng sekali menemukan suasana belajar di mana siswa-siswanya aktif. Kebanyakan jika guru mereka bilang ada pertanyaan? Semua membisu entah karena memang ga da pertanyaan atau bingung atau takut bertanya.
Walaupn ada yg bertanya paling cuma bbrapa. Menrt Bpk apakah saya yang tidak pernah menemui siswa2 yang aktif atau mental anak2 Indonesia memang seperti itu. Tk.
Menurut saya disebabkan oleh banyak hal al. : nilai atau kebiasaan yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan, metode pengajaran, sarana pendidikan, kompetensi pendidik, role model dsb.
Kebanyakan metode pendidikan dalam keluarga masih bersifat alamiah dan turun temurun sedang di sekolah masih menjadikan “target nilai” sebagai tujuan bukan alat.
Disisi lain pola pendidikan masih terlalu menitik beratkan pada kecerdasan intelektual (IQ) dibanding kecerdasan-kecerdasan lainnya. Lihat artikel : Kecerdasan Individu.
Sarana pendidikan yang kurang fungsional, kompetensi pendidik yang belum terstandarisasi dengan baik serta masih sedikitnya role model dibanding “idol-idol” hedonis dan konsumtif.
Salam sejahtera.
Namaku Ridwan, saat ini aku aktif di organisasi ekstra kampus GMNI.
Program kerja GMNI salah satunya ialah pelatihan kepemimpinan, namun sebagai salah satu pengurus saya masih mengalami kesulitan dalam perumusan metode dan materi yang mampu merangsang dan menciptakan pemimpin yang melayani di tengah tengah masyarakat.
Kepada kawan kawan yang mempunyai pengalaman dan pengetahuan agar kiranya memberikan saran dan masukan terhadap permasalahan di atas.
Terima kasih.
Silahkan baca artikel berikut : Pelatihan Kepemimpinan yang Baik.
Salam persahabatan……….
Saya Elvys bekerja dibidang Kontraktor.
Setiap pekerjaan saya selesai terlaksana, tetapi saya setiap pekerjaan yang saya kelola tidak membuahkan hasil sebagaimana mestinya saya harapkan.
Menurut saudara langkah apa yang saya harus lakukan…..?
Thanks…………………….
Pemahaman yang menyimpulkan bahwa sukses adalah nilai tertinggi atau sebaliknya, sering tanpa kita sadari membuat kita menempatkan target sebagai sebuah tujuan, bukan alat.
Akibatnya kita tidak pernah “mengenal” kapasitas diri kita dan tidak pernah menghargai “proses” sebagai cara untuk “bertumbuh”.
Selanjutnya bisa ditebak, “rencana” ataupun anggaran biaya yang seharusnya dijadikan “blue print” kerja, tidak disusun secara baik dan akurat (hanya untuk memenuhi persyaratan?).
Padahal melalui siklus PDCA (Plan Do Check Action) kita membiasakan diri untuk semakin memperkecil derajat penyimpangan antara pencapaian dengan target yang kita inginkan.
Saat mulai KLIK inilah, kita menjadi lebih mudah mencapai target sesuai dengan yang kita inginkan.
Salam perdamaian……………….
Saya baru tamat kuliah bulan Juli kemaren.
Saya masih takut menghadapi dunia kerja.
Seperti judul lagu Iwan Fals :”Hadapi saja !”
Salam, Nama saya Irvan.
Sebulan yang lalu saya resign dari perusahaan tempat saya bekerja dulu sebagai supervisor karena merasa tidak cocok dengan bos yang dulu.
Sebelum keluar saya sempat bertengkar mulut dengan bos karena masalah prinsip dan beda pendapat. Dan bukan hanya saya, semua teman saya di kantor juga tidak cocok dengan bos yang satu ini.
Sekarang saya baru bekerja di perusahaan lain sebagai supervisor juga.
Tapi yang menganggu pikiran saya, saya khawatir perusahaan saya yang baru ini menelepon ke perusahaan yang lama tentang saya dan saya khawatir bos saya yang dulu menjelek-jelekkan saya yang memang sudah menjadi kebiasaannya.
Pertanyaan saya:
1. Apakah mungkin suatu perusahaan menelepon ke perusahaan lain menanyakan tentang karyawannya ?
2. Kalau seandainya perusahaan tempat saya bekerja sekarang menelepon ke perusahaan saya yang lama dan benar bos saya yang dulu menjelek-jelekkan saya, apa yang harus saya lakukan atau katakan ke perusahaan saya yang sekarang ?
MOHON SEKALI UNTUK DIJAWAB!
Dari pada menghabiskan enerji untuk memikirkan berbagai hal yang berada di luar zona kendali kita dan belum tentu terjadi seperti : apakah mantan bos yang akan terus mengejar Anda ? apakah perusahaan baru yang akan mempersoalkan masa lalu Anda ?, lebih baik Anda gunakan untuk mengendalikan yang berada dalam zona kendali Anda seperti : tidak usah berhubungan dulu dengan teman teman di perusahaan lama sampai Anda di angkat penuh, meningkatkan kompetensi/prestasi kerja Anda di tempat yang baru dsb.
Apabila masa lalu Anda dipandang bermasalah oleh perusahaan yang baru, biasanya hal tersebut telah diantisipasi sejak awal dan apabila dikemudian hari akan dipersoalkan, biasanya tidak langsung asal percaya, melainkan tetap dikonfirmasikan secara berimbang.
Apabila rasa cemas masih terus menghantui juga, sebaiknya emosi yang terkunci (trauma) akibat konflik dengan mantan bos Anda, di terapi ! Lihat : Klinik SERVO.
Saya mau tanya, adakah perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam hal analisa spasial (visualisasi) ?
Banyak anggapan bahwa perempuan lebih lemah dalam hal analisa spasial (visualisasi) jika dibandingkan laki-laki. Benarkah demikian. Contoh : perempuan lebih lemah dalam menunjukkan rute tempat dengan sebutan arah mata angin (selatan, utara, dll).
Trimakasih atas jawabannya
Karakter awal perempuan dan laki laki memang berbeda dan diturunkan secara genetis sebagai hasil evolusi jutaan tahun.
Namun dikemudian hari, karakter ataupun kemampuan tsb. dapat berubah tergantung dari seberapa besar peluang tumbuh yang diberikan oleh lingkungan melalui pola asuh, pendidikan dan pengalaman.
Ada yang berpendapat bahwa pria memiliki kemampuan membaca ruang / peta lebih baik dibanding wanita karena secara fitrah bertugas mencari nafkah (berburu), sedang wanita memiliki kemampuan melakukan beberapa pekerjaan sekaligus dalam satu waktu karena terlatih mengasuh anak sekaligus melindunginya dari ancaman luar.